Pages

Sunday, October 17, 2010

Ikhlas (Pinjam - Meminjam)

Ikhlas adalah perbuatan yang sangat mulia. Bagi siapa saja yang bisa melakukannya maka pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Hal ini sesuai dengan kadar kesulitannya yang juga luar biasa. Sebenarnya ikhlas berhubungan erat dengan perasaan. Seberapa jauh kita bisa mengelola perasaan kita. Memang sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena kita tidak memerlukan modal apapun berupa materi. Susahnya karena kita memiliki ego yang selalu mengutamakan diri sendiri.

Asal tahu saja, kawan. Ikhlas memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu harus ditengok dari semua sudut pandang, baik dari diri sendiri dan juga dari luar diri. Kalo kita hanya menengok sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri, maka saya jamin tak akan ada kata ikhlas dalam kamus kehidupan kita. Allah berusaha mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita juga harus menghormati orang lain.

Banyak sekali aplikasi ikhlas yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah ikhlas dalam hukum pinjam meminjam. Agar pembahasan tidak terlalu panjang maka saya khususkan bagi orang yang meminjamkan saja. Karena bagi orang yang meminjamkan, penerapan sifat ikhlas jauh lebih terasa daripada orang yang meminjam.

Fenomena Zaman Sekarang

Bulan Ramadhan masih kita jalani bersama hari ini. Bulan yang selalu dinanti oleh sebagian umat Islam di seluruh Indonesia. Lho, kok kalimatnya “sebagian”, biasanya kan semuanya? Ah, itu karena saya mendapati realita bahwa memang tidak semua umat Islam di seluruh dunia merindukan datangnya bulan Ramadhan. Buktinya tidak ada greget yang mereka tunjukkan ketika sudah memasuki bulan Ramadhan yang mulia. Maaf, kalo saya agak berkonotasi jelek. Tapi ini bukan prasangka apalagi pendapat belaka. Saya melihatnya sendiri.


Beberapa hari yang lalu, setelah buka puasa bersama dan sholat maghrib saya segera bersiap-siap untuk datang ke masjid untuk menunaikan sholat tarawih berjamaah. Mesjid tidak terlalu jauh, paling cuman 100 meter saja. Saya mengajak salah satu teman yang kebetulan bersama saya waktu itu dan dia setuju untuk berangkat bersama. Saya senang karena tidak akan berangkat sendiri. Bagaimanapun juga ada teman akan lebih memberikan semangat daripada berangkat sendiri.