Pages

Sunday, October 17, 2010

Ikhlas (Pinjam - Meminjam)

Ikhlas adalah perbuatan yang sangat mulia. Bagi siapa saja yang bisa melakukannya maka pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Hal ini sesuai dengan kadar kesulitannya yang juga luar biasa. Sebenarnya ikhlas berhubungan erat dengan perasaan. Seberapa jauh kita bisa mengelola perasaan kita. Memang sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena kita tidak memerlukan modal apapun berupa materi. Susahnya karena kita memiliki ego yang selalu mengutamakan diri sendiri.

Asal tahu saja, kawan. Ikhlas memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu harus ditengok dari semua sudut pandang, baik dari diri sendiri dan juga dari luar diri. Kalo kita hanya menengok sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri, maka saya jamin tak akan ada kata ikhlas dalam kamus kehidupan kita. Allah berusaha mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita juga harus menghormati orang lain.

Banyak sekali aplikasi ikhlas yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah ikhlas dalam hukum pinjam meminjam. Agar pembahasan tidak terlalu panjang maka saya khususkan bagi orang yang meminjamkan saja. Karena bagi orang yang meminjamkan, penerapan sifat ikhlas jauh lebih terasa daripada orang yang meminjam.

Meminjamkan sesuatu kepada orang lain adalah tindakan yang sangat mulia kawan. Kita membantu kesulitan orang lain sehingga ia terbebas dari kesusahan. Hanya saja kemuliaan itu tidak akan ada harganya jika tidak diikuti dengan ikhlas. Ikhlas dalam meminjamkan barang yang kita miliki kepada orang lain.

Ikhlas dalam hal ini artinya kita rela seandainya nanti barang yang dinpinjam sudah dikembalikan memiliki kondisi yang tidak sesuai dengan ketika kita meminjamkan. Misal ada cacat, ada goresan, ada sesuatu yang kurang, rusak, dan lain sebagainya. Kecuali sudah ada perjanjian sebelumnya bahwa barang kembali harus sama persis dengan barang ketika keluar(tapi kayaknya susah deh untuk memenuhi syarat ini).

Yang kadang bikin kita susah menerapkan ikhlas adalah ketika barang yang kita pinjamkan menjadi cacat, rusak, berkurang jumlahnya, dan atau berubah warnanya sementara si peminjam diam saja tanpa merasa bersalah sama sekali. Kadang ia justru diam pura-pura tidak tahu. Ada juga yang justru menghindar dengan mengatakan,”Itu sudah semenjak saya pinjam sudah begitu.” Jengkel tidak jika kita diperlakukan seperti itu. Akan lebih mudah jika si peminjam mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan meminta keredhoan dari pemilik barang untuk mengikhlaskannya. Syukur-syukur mau bertanggung jawab memperbaiki atau mengganti.

Saya sendiri kadang masih susah sekali untuk bersifat ikhlas dalam kondisi seperti itu. Kewajiban si peminjam adalah menjaga agar barang yang dipinjam dijaga dengan baik tetapi seolah mereka cuek bebek. Parahnya ada yang berprinsip,”Ah, mumpung cuman pinjam, rusak ga papa.” Justru kebalik, orang mau meminjamkan berarti memberikan amanah untuk menjaga barang itu. Jika si pemilik barang tidak mengikhlaskannya bisa jadi pengganjal masuk surga bagi si peminjam. 

Untuk itu, mari kita mencoba berusaha sekuat mungkin untuk berperilaku bijak. Bagi si pemilik barang yuk kita belajar ikhlas untuk barang yang kita pinjamkan. Dan untuk si peminjam yuk kita belajar menjaga amanah dengan berusaha menggunakan barang yang kita pinjam sebaik mungkin. Dan apabila terjadi kerusakan kita mau mengakuinya terus terang.

No comments:

Post a Comment